Tugas UTS; Pendidikan Sebagai Jiwa Pergerakan
PENDIDIKAN SEBAGAI JIWA PERGERAKAN
Pergerakan tak dapat dipisahkan dari pemikiran yang mendasari sebuah pergerakan tersebut. Pemikiran sendiri lahir ketika seseorang mengalami proses belajar -baik secara disadari maupun tidak- yang ia alami semasa hidupnya. Proses belajar ini akan lebih terstruktur dan lebih efektif jika dinaungi oleh kegiatan pendidikan yang secara usaha sadar membentuk suasana belajar yang dapat membentuk pemikiran seseorang, termasuk didalamnya pemikiran tentang pergerakan. Oleh karenanya, tidak salah ketika disebutkan bahwa; Pendidikan adalah jiwa dari seluruh pergerakan oleh karena posisinya sebagai pembangkit kesadaran untuk bergerak atau berubah dari suatu kondisi menuju kondisi lainnya karena dirasa tidak sesuai dengan apa yang diyakininya.
Pendidikan sendiri menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” (suatu upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti, kekuatan batin dan karakter pikiran, serta tubuh anak). Oleh karenanya, tidak mungkin pergerakan lahir tanpa adanya pembentukan karakter -berbasis pendidikan- dari sebuah bangsa yang akan dijadikan sebagai jiwa (semangat) pemikiran tersebut. Dari deskripsi tentang pendidikan ini saja sudah terlihat kaitan peran pendidikan terhadap pergerakan nasional yang ternyata menjadi jiwa setiap pergerakan yang ada di Indonesia.
Berbeda secara filosofis, dalam tataran praktis memang terjadi berbagai artikulasi baru terhadap interpretasi-interpretasi yang diwujudkan dalam pergerakan-pergerakan nasional yang ada di Indonesia. Diantaranya yang sudah masyhur terdengar adalah: Sarekat Islam (SI), Boedi Oetomo, Indische Partij, Muhammadiyah, dll. Itu semua lahir dari sebuah jiwa yang sama, pemikiran ingin merdeka dari penjajahan. Memang belum ada identitas "Indonesia" pada saat itu, namun mereka semua dipersatukan dalam ideologi yang sama; ideologi kemerdekaan -baik secara politis maupun akademis.
Liberalisasi pendidikan formal di Indonesia sendiri terjadi ketika politik etis yang terlaksana di Indonesia bertepatan setelah pidato Ratu Wilhelmina pada 17 September 1901 tentang peningkatan kesejahteraan Hindia Belanda melalui pelaksanaan politik etis dalam tataran Irigasi, Emigrasi, dan Edukasi. Yang perlu digarisbawahi adalah, ternyata politik etis inipun tidak sepenuhnya mewujudkan kesejahteraan Pribumi Hindia Belanda, karena dalam realitanya, pendidikan masih terbatas pada anak-anak bangsawan (Priyayi). Kelak dari para priyayi yang mengenyam pendidikan inilah lahir para pemberontak yang sadar akan bangsanya yang sedang dalam kondisi terjajah. Kondisi sadar keterjajahan tersebut dibarengi dengan kesadaran akan karakter bangsa-nya, dari sanalah muncul pemberontakan-pemberontakan yang sekali lagi memiliki artikulasi berbeda-beda dalam ideologi namun tunggal dalam jiwa; jiwa yang merdeka.
Sumber:
Susilo, A., & Isbandiyah, I. (2018). POLITIK ETIS DAN PENGARUHNYA BAGI LAHIRNYA PERGERAKAN BANGSA
INDONESIA. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 6(2), 403-416.
Sumber:
Susilo, A., & Isbandiyah, I. (2018). POLITIK ETIS DAN PENGARUHNYA BAGI LAHIRNYA PERGERAKAN BANGSA
INDONESIA. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 6(2), 403-416.
Yanuarti, E. (2017). Pemikiran pendidikan ki. Hajar dewantara dan relevansinya dengan kurikulum 13. Jurnal penelitian, 11(2), 237-265.
Komentar
Posting Komentar