PENDAHULUAN
Kartini lahir pada 28 Rabiulakhir 1808 tahun Jawa, bertepatan 21 April 1979 M, di Jepara, dari pasangan R.M Sosroningrat dengan Ajeng Ngasirah.4 Tanggal kelahiran Kartini 21 April itulah yang hari ini diperingati sebagai Hari Kartini. Dan seterusnya dan seterusnya. Tentu ketika kita mencari tulisan tentang Kartini, seringkali kita disuguhkan dengan biografi dari Raden Ajeng Kartini, hal ini menjadi alasan bagi penulis untuk tampil beda dengan menyajikan konsep tulisan berbasis anggapan yang sudah beredar di masyarakat. Penulis mencoba menguji -melalui keterbatasan ilmunya- terhadap syubhat-syubhat yang tersemat pada sosok Kartini. Berikut saya paparkan secara ringkas beberapa syubhat beserta tabayunnya.
SYUBHAT I
Dalam artikel berjudul "Raden Adjeng Kartini: Between Education and Feminism in Letters of a Javanese Princess" karya Sundari disebutkan bahwa Kartini ternyata sangat mengagumi peradaban Eropa dan menjadikannya peradaban yang tak tertandingi. "She told that the European is the only true civilization, supreme and unsurpassed. It’s meant that she amazed to the western custom that never discriminated the people based on the gender and status. During the period of seclusion, RA Kartini diligent exchanged letters to her friends in Netherlands. She was diligent to read many western books in Dutch too. Accordingly she can compare the customs of Java and Europe." (Sundari, 2019). Berdasarkan pada kalimat yang dituliskan oleh Kartini dalam suratnya kepada Mrs. Abendanon pada tanggal 27 Oktober 1902 yang berbunyi: “…the European is the only true civilization, supreme and unsurpassed".
Kesimpulan di atas singkat penulis sangat melenceng dan tergolong fatal, karena jika kita merujuk pada text surat yang ditulis oleh Kartini dalam Letters of a Javanese Princess kita akan mengetahui bahwa kalimat lengkap yang ingin disampaikan Kartini adalah berikut: "We do not expect the European world to make us happier. The time has long gone by when we seriously believed that the European is the only true civilization, supreme and unsurpassed. Forgive us, if we say it, but do you yourself think the civilization of Europe perfect? We should be the last not to see and appreciate the great good that is in your world, but will you not acknowledge that there is also much that brings the very name of civilization into ridicule?". Sangat berbanding terbalik dengan apa yang disimpulkan Sundari dan terkesan menutupi fakta yang sebenarnya. Oleh karenanya hemat saya syubhat ini tidak benar, justru Kartini ingin menyampaikan bahwa dia sudah tidak lagi terpana pada peradaban Eropa.
Lihat: https://en.wikisource.org/wiki/Letters_of_a_Javanese_princess/Chapter_50
SYUBHAT II
Masih dalam artikel yang sama. Kartini digambarkan kecewa dengan Islam dan para pemeluknya yang terkesan hipokrit dan menganggap Tuhan -beserta surga dan neraka nya- itu sebenarnya terletak hanya sebatas dalam kesadaran manusia saja dan kesadaran tertinggi itu terletak pada ketinggian akal dan budi pekerti. sebagaimana berikut: “…Our God was our conscience, our Hell and our Heaven too was our own conscience; if we did wrong our conscience punished us; if we did well, our conscience rewarded us. God Allah was for us a name a word a sound without meaning. We had sought so far and so long, we did not know that it was near, that it was always with us, that it was in us”.
In her statement above, the researcher’s thought that she disappointed with Islam. It was an honest confession of Kartini’s heart condition at a moment, where she felt unsatisfied with the person’s behavior who answered to the name of Mohammedanism, but they did something which is avoid in religion. So, as the humanism Kartini looked up the human as the human, she didn’t see what religion people followed by the, and she considered that the one of the true God was the human consciousness with their goodness that there are only two kinds of nobility, the nobility of mind and nobility of gratitude. (Sundari, 2019).
Jika kita menengok kembali pada teks aslinya, memang ditemukan persis seperti yang disebutkan oleh Sundari, namun terdapat pernyataan lainnya yang tidak dicantumkan. Sehingga mengakibatkan gagal fokus dalam memahami teks tersebut. " Our God was our conscience, our Hell and our Heaven too was our own conscience; if we did wrong our conscience punished us; if we did good, our conscience rewarded us. The years came and went; we were called Mahommedans because we had inherited that faith, and we were Mahommedans in name^ no more. God—Allah—was for us a nam—a word—a sound without meaning. Now we have found Him for whom unconsciously our souls had yearned during the long years. We had sought so far and so long, we did not know that it was near, that it was always with us, that it was in us". Jika kita teliti, penggunaan kata-kata di awal menunjukkan Past Tenses -sebagaimana terlihat pada teks yang saya tebalkan- menunjukkan memang pada awalnya Kartini memilingki prasangka tersebut. Namun kita lihat lagi pada teks yang saya tebalkan selanjutnya, ada pernyataan "Now" yang menunjukkan adanya perubahan pemahaman yang terjadi pada Kartini. Oleh karena-nya tidak tepat kesimpulan Sundari yang mengatakan Kartini kecewa terhadap agama Islam dan menginterpretasikan Tuhan sebagai kesadaran saja.
Lihat: https://en.wikisource.org/wiki/Letters_of_a_Javanese_princess/Chapter_44
SYUBHAT III
Syubhat ini datang dari persepsi segelintir masyarakat yang memandang Kartini sebagai seorang yang sangat keras perlawanannya terhadap poligami dan menganggap pernikahannya dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat merupakan sebuah kekalahan terbesarnya dalam melawan poligami, karena ternyata Kartini dimadu menjadi istri ke-4. Namun yang unik adalah ternyata Kartini secara pribadi ternyata sangat berbahagia terhadap pernikahannya dengan Djojo Adiningrat, berbanding seratus delapan puluh derajat terhadap orang-orang yang membelanya sebagai feminis sejati dan menganggap poligami merupakan sebuah kekalahan. Kartini bertutur dalam surat yang ia tujukan untuk Van Kol pada tanggal 1 Agustus 1903; "AFEW words to announce to you, as briefly as possible, a new turn in my life. I shall not go on with our great work as a woman alone! A noble man will be at my side to help me. He is ahead of me in work for our people ; he has already won his spurs while I am just beginning. Oh, he is such a lovable, good man, he has a noble heart and a clever head as well. And he has been to Holland, where his bride would so gladly go, but must not for her people's sake. It is a great change; but if we work together, and support and help one another, we may be able to take a far shorter road to the realization of our hopes than could either alone. We meet at many, many points. You do not yet know the name of my betrothed; it is Raden Adipati Djojo Adiningrat, Regent of Rembang."
Masih banyak surat-surat lainnya yang menunjukkan kebahagiaan Kartini dalam memilih Djojo Adiningrat sebagai suaminya, sehingga kesimpulan penulis pernikahan Kartini bukan simbol kekalahannya, melainkan justru bentuk titik balik dirinya terhadap pembuktian bahwa yang salah dari pernikahan poligami bukan terhadap poligaminya, namun terletak pada masyarakat pada zasman itu yang notabene tidak adil dalam menjalankan poligami, sehingga menimbulkan trauma mendalam padanya. Jikalau masalah terletak pada poligami, tentu sampai kapanpun Kartini tidak akan berbahagia terhadap pernikahan yang ia sendiri setujui tersebut.
Lihat: https://en.wikisource.org/wiki/Letters_of_a_Javanese_princess/Chapter_62
SYUBHAT IV
Telah sampai kita pada syubhat terberat menurut penulis, dikarenakan begitu kompleks dan peliknya penulis mencari sumber-sumber terkait syubhat ini, yaitu syubhat perjalanan spiritual seorang Kartini. Berawal dari rasa penasaran penulis terhadap klaim kaum muslimin yang mengatakan bahwa Kartini merupakan seorang yang taat dan memiliki latar belakang yang kuat terhadap agama Islam. Namun pada kenyataannya penulis harus menyatakan bahwa anggapan tersebut tidak selaras antara fakta yang ada.
Pertama, Data yang sering diungkap untuk menunjukkan identitas muslim yang kuat dari seorang Kartini berasal dari suratnya pada Mrs. Abendanon pada tanggal 21 Juli 1902 yang berbunyi "Yakinlah nona, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami patut disukai". (Historia.id, 2015).
Namun jika diteliti lebih lanjut telah terjadi salah penulisan tanggal, teks yang dimaksud tersebut ada pada tanggal 12 Juli 1902 yang berbunyi lengkap: "Let me say now, to set you at ease, that we will always remain what we are, but we fervently hope with you, that it may be granted us to make our own form of religion admirable in the eyes of those who think differently (Izinkan saya mengatakan sekarang, untuk membuat Anda tenang, bahwa kami akan selalu tetap menjadi diri kami sendiri, tetapi kami sangat berharap bersama Anda, bahwa kami dapat dikaruniai untuk membuat bentuk agama kami sendiri yang mengagumkan di mata mereka yang berpikir secara berbeda)".
Namun penulis juga tidak menutup mata bahwa pada kelanjutannya Kartini mengakui dirinya sebagai seorang Muslim "Religion is designed as a blessing, it should form a bond between all the creatures of God, white or brown, of every station, sex and belief,for all are children of One Father, of one God. There is no God but the Almighty, say we Mohammedans, and with us all-believing monotheists, God is the master, the Creator of everything (Agama dirancang sebagai sebuah berkah, seharusnya membentuk ikatan antara semua makhluk Tuhan, kulit putih atau coklat, dari setiap stasiun, jenis kelamin dan kepercayaan, karena semua adalah anak-anak dari Satu Bapa, satu Tuhan. Tidak ada Tuhan selain Yang Maha Kuasa, kata kami umat Islam, dan bagi kami umat monoteis yang percaya, Tuhan adalah penguasa, Pencipta segala sesuatu.)". Sebenarnya masih panjang perdebatan ini namun, saya kira dicukupkan sekian, adapun jika dirasa kurang silahkan request di kolom komentar, karena saya tidak akan melanjutkan penulisan tanpa permintaan.
Lihat: https://en.wikisource.org/wiki/Letters_of_a_Javanese_princess/Chapter_41
Wallahu'alam bisshawwab.
Komentar
Posting Komentar