Tugas Pertama; SDI atau Boedi Oetomo
Nasional dalam pelupuk Jawa
Sudah menjadi kemestian bagi kita -oleh negara- untuk memperingati hari kebangkitan nasional pada setiap tanggal 20 Mei yang ditandai sejak Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1985 Tentang Penyelenggaraan
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Banyak alasan yang melatarbelakangi pemilihan hari lahirnya Boedi Oetomo ini sebagai hari kebangkitan nasional, disebutkan salahsatunya; negara ingin menjadikan kaum terpelajar sebagai "role model" para inisiator kebangkitan nasional. Disamping itu ada pula kepentingan politis yang mendasari pemilihan Boedi Oetomo sebagai pionir kebangkitan nasional. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Boedi Oetomo laik menyandang gelar pionir kebangkitan nasional? apa standar yang menentukan suatu pergerakan dapat disebut pergerakan nasional? dan bagaimana bisa Sarekat Dagang Islam diajukkan oleh beberapa sejarawan sebagai pionir kebangkitan nasional?
20 Mei 1908, Boedi Oetomo didirikan oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta. Tokoh-tokoh besar yang ikut membesarkan Boedi Oetomo antara lain dr. Wahidin Soedirohoesodo, R. Soetomo dan M. Soeradji. Harus diakui Boedi Oetomo tergolong organisasi modern awal yang ditandai dengan anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga-nya (ART) yang sudah jelas di awal terbentuknya Boedi Oetomo. Boedi Oetomo di masa-masa awal lebih condong kepada usaha untuk memeperjuangkan pendidikan kaum Bumiputera, sebagaimana tertuang dalam program kerja masa 1908-1909: 1. Meminta kepada pemerintah untuk : I. Meningkatkan standar pendidikan di sekolah-sekolah pendidikan guru untuk guru-guru bumiputra (prinsip-prinsip pertanian, peternakan, kebersihan, dan senam) dan di sekolah-sekolah kepala (sekolah-sekolah tersebut harus dapat berhubungan dengan sekolah kedokteran hewan, sekolah pertanian, dan sekolah hakim bumiputra, yaitu memberikan pengetahuan yang cukup tentang matematika, bahasa Belanda, bahasa Prancis, dan bahasa Latin; senam juga harus dimasukkan ke dalam jadwal kegiatan sekolah-sekolah tersebut; mengurangi atau menghapuskan mata pelajaran tambahan, dan menggantinya dengan bahasa-bahasa modern, bahasa Yunani, dan bahasa Latin.) (De Preanger-Bode, 1908).
Boedi Oetomo masa
awal juga menolak terjun dalam dunia politik, mereka lebih memilih
mengembangkan hal yang bersifat sosial budaya ketimbang politik, Juga karena
Boedi Oetomo pada saat itu masih memegang ide awalnya yang terpaut dengan daerah sehingga tidak memungkinkan menjadikannya sebuah organisasi politik yang
bersifat majemuk dan nasional. Banyak yang tidak setuju dengan hal ini, salah satu yang paling mencolok adalah ketika dr. Tjipto Mangoenkoesoemo
mengusulkan organisasi Budi Utomo untuk menjadi partai politik dan didasarkan
pada persaudaraan nasional tanpa memandang latar belakang kedaerahan dan
kepercayaan. Namun itu semua tidak terealisasi, Budi Utomo tetap teguh pada
idealisme awal mereka. Oleh karena itu, dr Tjipto memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi tepat sebulan sebelum
dilakukannya kongres kedua organisasi Boedi Oetomo (Ichsan, et. al, 2023).
Deliar Noer (dalam Marasabessy, 2020) berkata: "bagi kalangan Islam yang mengetahui dan menyadari perkembangan pergerakan nasional kita dari permulaan abad ke-20, faham Islam umumnya mencangkup politik. Hal ini dalam bentuk modern dinyatakan pertama kali dalam kalangan Islam (malah di antara bangsa kita pada umumnya) oleh Sarikat Islam tahun 1912. Praktis organisasi ini yang memulai kegiatan politik di antara bangsa kita. Perkumpulan Budi Utomo yang diakui sebagai pelopor pergerakan nasional, sebenarnya adalah gerakan kebudayaan yang terbatas untuk orang jawa (meliputi pulau Jawa, Madura, dan Bali), tidak termasuk didalamnya orang-orang yang berasal dari luar ketiga pulau tersebut. Malah di tahun 1916 beberapa tokoh Budi Utomo menulis beberapa brosur tentang Javaansch Nationalisme (kebangsaan Jawa)".
Sarekat Dagang Islam (yang berubah menjadi Sarekat Islam) memperkenalkan istilah kebangsaan dalam bingkai nasionalisme yang lebih egaliter dan dapat diterima semua kalangan sebagaimana disampaikan sendiri oleh H.O.S Tjokroaminoto dalam Kongres Centraal Sarekat Islam, pada 18 Juni 1916, "Tuan-tuan! sungguh besar nama kongres ini... kongres nasional!.. Nama ini, perkataan nasional, tidaklah sekali-kali menunjukkan keangkuhan kaum SI, atau menunjukkan tajamnya pikiran dan luasnya pandangan pemimpin-pemimpin kongres, tetapi semata-mata hanyalah menunjukkan salah satu daripada maksudnya pergerakan SI, yaitu berikhtiar akan menaiktangganya kebangsaan (natie), dan di dalam kongres ini yang akan kita bicarakan yaitu; usaha yang pertama-tama buat membantu supaya Hindia lekas dapat pemerintahan Zelfbestuur (pemerintahan sendiri), atau supaya sedikitnya penduduk Bumiputera lekas diberi hak akan turut bicara dalam perkara pemerintahan..." (Marasabessy, 2020). Barangkali inilah salah satu dari beberapa alasan mengapa Sarekat Islam lebih layak menyandang gelar pionir kebangkitan nasional, oleh karena pergerakannya yang massif dan juga inklusif. Berbeda dengan Boedi Oetomo yang baru serius dalam dunia politik pada tahun 1922.
Nasionalisme yang lahir dalam tanah yang sama ternyata memiliki perbedaan yang sangat nyata, nasionalisme dalam pelupuk jawa terbagi kepada siapa yang mengusungnya dan ideologi apa yang menjadi dasar nasionalisme tersebut. Dikotomi ini disampaikan oleh Elson (2007) "Indies society was, then, increasingly deeply divided by two separate but interconnected ideological fault lines. On the one hand were the Islamic modernists, the kaum muda, often the products of a Middle Eastern education, spreading their reforming and emancipating religious ideas, over against the traditionalist kaum tua, tied to precedent and tradition, distrustful that change might unbalance society’s harmony and enmeshed in cultural constructions of indigenous identity." (Masyarakat Hindia, pada saat itu, semakin terpecah belah oleh dua garis patahan ideologis yang terpisah namun saling berhubungan. Di satu sisi adalah kaum modernis Islam, kaum muda, yang sering kali merupakan hasil dari pendidikan Timur Tengah, yang menyebarkan gagasan-gagasan reformasi dan emansipasi agama mereka, berhadapan dengan kaum tradisionalis, kaum tua, yang terikat pada preseden dan tradisi, yang tidak percaya bahwa perubahan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat dan terjerat dalam konstruksi budaya identitas pribumi).
Sumber:
Elson, R. (2007). Islam, Islamism, the nation, and the early Indonesian nationalist movement. JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM, 1(2), 231. https://doi.org/10.15642/jiis.2007.1.2.231-266
Ichsan, M., Maulia, S. T., & Hendra, H. (2023). BUDI UTOMO: Pemantik Pergerakan Nasional. Jurnal EduSosial, 3(1), 96-106.
INDIE.. "De expres". Bandoeng, 29-05-1912, p. 2. Geraadpleegd op Delpher op 12-03-2024, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB19:000554071:mpeg21:p00002
DE BOEDI OETOMO.. "De Preanger-bode". Bandoeng, 14-10-1908. Geraadpleegd op Delpher op 12-03-2024, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB08:000127266:mpeg21:p001
Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 1 Tahun 1985
Marasabessy, Mikael, H.O.S. TJOKROAMINOTO dari Santri Menjadi Guru Tokoh Bangsa. Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2020
Komentar
Posting Komentar