Sekali Lagi Tentang Sarekat Islam
Reformasi SDI menuju SI
Perubahan Sarekat Dagang Islam (SDI) menuju Sarekat Islam (SI) terjadi ketika H.O.S. Tjokroaminoto membuat anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya, lalu meminta pengesahannya pada Notaris B.Turkurle, di Solo yang disahkan pada 14 September (dalam sumber lain 10 September) 1912 (Marasabessy, 2020).
Para Uleebalang dan Prijaji Pemberontak
Pengurus-pengurus Sarekat Islam memiliki banyak pengurus, dan cakupannya sendiri sudah mewakili 2/3 wilayah negara Indonesia pada saat ini, yaitu dari Aceh hingga Maluku, sesuatu yang amat besar untuk sebuah organisasi pergerakan. Anthony Reid mengatakan " Tidak semua Uleebalang (kepala pemerintah dalam kesultanan Aceh yang memimpin sebuah daerah atau sagoë) dikendalikan oleh Belanda begitu saja. Ada yang memberontak, diantaranya Uleebalang yang menjadi anggota Sarekat Islam, mereka adalah; Teuku Rhi Boedjang, Teuku Chik Mohamad (Mat) Said, Teuku Abdul Latif, yang mereka menyatukan para Uleebalang di Lhokseumawe untuk menyadarkan penjajahan rakyat dari penjajahan kolonial Belanda (Marasabessy, 2020).
Anggota Sarekat Islam
Data yang tercatat pada buku Sarekat Islam, Obor kebangkitan Nasional dan Satu Abad Dinamika Perjuangan Sarekat Islam (dalam Marasabessy, 2020), anggota Sarekat Islam -yang pada awalnya Sarekat Dagang Islam- pada tahun 1906 memiliki 3000 anggota dalam tubuh organisasi. Lalu seiring dengan berkembangnya Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam ini, anggotanya terus bertambah, puncaknya yang tertinggi terjadi pada 1919 yang menunjukkan ada dua juta anggota yang bergabung dalam Sarekat Islam (dalam sumber lain dua juta lima ratus ribu anggota) (Marasabessy, 2020).
Sekali Lagi Tentang Sarekat Islam
Tulisan ini didasarkan pada rasa tanggungjawab penulis dalam menjadikan Sarekat Islam sebagai sebuah organisasi pergerakan nasional ditengah terpaan skeptis berkaitan dengan "identitas" yang diusung Sarekat Islam, juga menjadi penguat tulisan yang sebelumnya.
Nasional Adalah Identitas
Perlu kita tarik kembali apa itu pengertian "Nasional" untuk dapat mengetahui standar suatu pergerakan itu dapat disebut "Nasional". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Nasional" berarti; bersifat kebangsaan; berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa: cita-cita. Dari sini agaknya kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa nasional ternyata hadir dari sebuah "identitas", suatu yang kita sebut-sebut sebagai bangsa. Bangsa sendiri menurut KBBI adalah; kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Dari pengertian ini juga muncul lagi identitas masyarakat yang didasarkan pada kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah. Karena pemerintahan sendiri pada saat itu belum terbentuk.
Kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa ternyata kita selalu membawa identitas kita dimanapun kita berada, bahkan dalam skala "nasional" pun membawa identitas "bangsa" didalamnya, yang didasarkan pada keumuman suatu bahasa, adat dan sejarahnya. Bangsa Indonesia sendiri terbentuk dari rumpun bangsa melayu, bahkan bahasanya -yang sudah direformasi menjadi bahasa Indonesia- dijadikan bahasa pemersatu bangsa kita yang nantinya akan menjadi bahasa Indonesia. Ada hal menarik disini, ternyata bahasa Melayu sudah identik dengan identitasnya sebagai bahasa yang Islam. Russel Jones mencatat bahwa dari sepuluh bahasa donor terbesar terhadap bahasa Melayu-indonesia, bahasa Sansekerta menduduki tempat pertama disusul oleh bahasa Arab, Persia, dan Hindi secara berturut-turut. Sementara itu, bahasa Inggris hanya berada di urutan kesembilan (Astuti, 2013).
Siapa Identitas Dasar Kita?
Dalam kehidupan sehari-hari kita akrab dengan istilah "ilmu", "hukum", "adil", "adab", "ahlak", "akidah", dan lainnya yang kesemuanya itu berasal dari bahasa arab, yang tentunya bukan hanya sebutan semantik saja, namun lebih dari itu, istilah-istilah ini juga membawa makna dan konsep asalnya, yaitu dari konsep yang dibawa oleh Islam.
Sekali lagi, tentu kita tidak gelap mata dengan kenyataan bahwa bahasa Melayu juga mendapatkan pengaruh yang besar dari bahasa Sansekerta, Tamil, Persia, China, dan Jawa. Namun, pengaruh bahasa-bahasa tersebut terbatas pada kosakata yang berhubungan dengan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makanan, aktivitas komersial, nama barang, dan semacamnya. Sekilas nampak bahwa masih ada banyak kosakata Sansekerta dalam bahasa Melayu yang ditemukan dalam aspek teologi dan metafisika, seperti surga, neraka, dan sebagainya. Namun, justru di sinilah keunikan konsep islamisasi bahasa. Islamisasi tidak sama dengan Arabisasi. Islamisasi bahasa tidak serta merta mengubah bentuk lahir bahasa tersebut, tetapi mengislamkan konsep-konsep yang terkandung dalam bahasa tersebut (Astuti, 2013).
Islam Dalam Identitas Nasional
Kita sama-sama mengetahui, bahwa dalam kajian penulisan terdahulu, kita menggunakan huruf Pallava yang berasal dari India Selatan untuk menuliskan teks-teks berbahasa Sansekerta. Namun jika kita lihat 1000 tahun kedepan tulisan Arab diserap setelah bahasa Arab masuk bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Bahasa Arab mempunyai pengaruh yang amat besar atas peradaban Nusantara dari masa itu hingga sekarang. Dengan masuknya agama Islam, banyak tulisan Sumatra terganti oleh tulisan Jawi (Astuti, 2013).
Denys Lombard memperkirakan ada 3.000 peristilahan Melayu yang berasal dari bahasa Arab dan Arab-Parsi. Selain berupa penyerapan kosakata dasar Islam, pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Melayu juga memunculkan satu bentuk kreatif sistem tulisan yang dikenal dengan huruf Jawi atau pegon. Huruf Arab-Jawi atau huruf pegon merupakan salah satu sumbangan terpenting yang diberikan oleh umat Islam kepada dunia Melayu. Pownall bahkan mencatat bahwasanya tidak ada rekaman jejak bahasa Melayu dituliskan sampai Arab mencapai Indonesia. Dokumen tertua yang dapat ditemukan ditulis dengan aksara Arab. Tradisi tulis di kalangan masyarakat baru berkembang pesat setelah kedatangan agama Islam dan huruf Arab-Jawi. Maraknya budaya ilmu ini dapat terlihat dari jumlah naskah Melayu yang tersebar di berbagai negara, termasuk di perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) (Astuti, 2013).
Kesimpulan
Nasional ternyata adalah sebuah identitas yang didasarkan pada suatu bangsa yang memiliki kesamaan dalam adat, bahasa, keturunan, dan sejarahnya. Kita sendiri harus mengakui bahwa bangsa kita ini termasuk dalam rumpun bangsa Melayu yang ternyata memiliki kaitan erat dengan Islam, dibuktikan dengan semantik yang sampai hari ini kita gunakan ternyata berasal dari bahasa Arab yang -meskipun tidak semuanya membawa konsep Islam- tentu mayoritasnya lahir dari konsep Islam.
Tulisan merupakan lambang keikutsertaan dalam suatu peradaban yang terpusat pada suatu ideologi, yaitu pada masa yang bersangkutan, suatu agama. Memilih bahasa Arab untuk menuliskan bahasa Melayu berarti menyatakan, dalam tulisan itu sendiri, dalam perwujudan teks, bahwa budaya Melayu merupakan bagian dari peradaban Islam.
Sehingga tidak heran ketika sebuah pergerakan nasional, disandarkan pada Sarekat Islam, karena memang Islam sudah melekat dan menjadi jiwa bangsa kita dari sejak zaman dahulu yang tentu dari semangat Islam ini, muncul semangat nasional yang terbentuk dalam Sarekat Islam. Walaupun penulis juga tidak menutup mata, bahwa perjuangan demi bangsa ini tidak hanya Islam saja, namun tetap kita harus tegas ternyata Sarekat Islam sudah mumpuni menjadi pergerakan nasional bahkan pionirnya, dan identitas bukan suatu alasan.
Kevin Fogg dalam disertasinya mengatakan; “In the independence
period, the national language (Bahasa Indonesia, literally “Indonesian language”) slowly moved
away from its religious past and became a secular national language along the lines of European
languages.” Ia juga berasumsi bahwa pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia mengalami
penurunan pasca kemerdekaan yang terjadi akibat standarisasi bahasa Indonesia.
Wallahu'alam bisshawwab.
Sumber:
Astuti, K. (2013, December). Pengaruh Deislamisasi Bahasa Terhadap Perilaku Bangsa. In Makalah Seminar Nasional" Bahasa dalam Dimensi Kemasyarakatan dan Kebudayaan" Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta (pp. 10-11).
Marasabessy, Mikael, H.O.S. TJOKROAMINOTO dari Santri Menjadi Guru Tokoh Bangsa. Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2020
Komentar
Posting Komentar